-->

Gubernur Yulius Selvanus di Hadapan Dubes Uni Eropa: Laut Sulut Adalah Urat Nadi Masa Depan

18 Juli 2026, 14:21 WIB Last Updated 2026-07-18T06:21:43Z

 

Newsblessing.com, SULUT - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terus memperkuat posisinya di kancah internasional dalam hal pelestarian kelautan dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.


​Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi, beserta rombongan delegasi negara anggota Uni Eropa di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado, Jumat (17/7/2026).


​Pertemuan strategis ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah pusat, KfW Development Bank, dan WCS Indonesia Program, sebagai bentuk apresiasi dunia internasional terhadap komitmen hijau (ekonomi biru) yang dijalankan oleh Bumi Nyiur Melambaikan.


Laut Sebagai Urat Nadi dan Visi Ekonomi Biru


​Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Yulius Selvanus memaparkan potret geografis dan capaian makroekonomi Sulawesi Utara. Dengan populasi 2,77 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang menyentuh angka 5,66 persen pada tahun 2025, Sulut memiliki karakteristik unik di mana 73 persen wilayahnya merupakan lautan.


​"Bagi kami, laut bukanlah pemisah, melainkan urat nadi kehidupan dan masa depan. Inilah alasan visi pembangunan kami sepenuhnya selaras dengan kebijakan Ekonomi Biru nasional," ujar Yulius.


​Sebagai bentuk konkret komitmen tersebut, Pemprov Sulut sejauh ini telah menetapkan kawasan konservasi perairan seluas 239.373,79 hektare. Kebijakan ini diambil guna melindungi ekosistem terumbu karang dan keanekaragaman hayati tanpa menutup ruang bagi pemanfaatan ekonomi yang ramah lingkungan.


Kesejahteraan Nelayan dan Ekspor Senilai 140 Juta USD


​Salah satu poin yang menarik perhatian delegasi Uni Eropa adalah konsistensi nelayan lokal dalam menerapkan metode tangkap tradisional yang berkelanjutan, seperti teknik Hutate (tali tangan, tali tarik, dan tali panjang).


​Metode ramah lingkungan ini terbukti mampu menghasilkan komoditas tuna, cakalang, dan skipjack berkualitas premium yang diakui pasar global tanpa merusak ekosistem laut. Keseimbangan ini berdampak langsung pada sektor perekonomian daerah:


  • Nilai Ekspor Perikanan (2025): Menembus angka 140 juta USD.
  • Nilai Tukar Nelayan (NTN): Mencapai indeks 112, yang mengindikasikan tingkat kesejahteraan pelaku usaha perikanan di Sulut berada dalam kategori sangat baik.

Dampak Nyata Kolaborasi Global Sejak 2020


​Gubernur Yulius juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak Uni Eropa, KfW, WCS, serta jajaran pemerintah pusat yang telah mendampingi program pemberdayaan pesisir di Sulut sejak tahun 2020.


​Kerja sama multilateral ini tercatat telah menyentuh 29 desa pantai dan memberikan pelatihan bagi 37 kelompok masyarakat pesisir untuk beralih ke mata pencaharian alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu keberhasilan nyata dari program ini adalah melejitnya Desa Budo sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Nasional.


​Ditambah dengan status Kota Manado sebagai markas Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), posisi Sulawesi Utara kian strategis sebagai episentrum perlindungan maritim di kawasan Asia-Pasifik.


​Gubernur berharap kemitraan erat ini dapat terus diperluas demi menghadapi tantangan perubahan iklim global.


​"Semoga kerja sama yang telah terjalin erat dapat terus berlanjut dan meluas. Bersama kita jaga ketahanan ekosistem laut, mitigasi dampak perubahan iklim, serta wujudkan kesejahteraan inklusif bagi seluruh masyarakat pesisir Sulawesi Utara," pungkasnya.

(*/Olvie)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar