-->

Tragedi Evia Maria Mangolo: DPRD Sulut "Cecar" Rektor Unima, Ungkap Borok di Lingkungan Kampus

13 Januari 2026, 14:02 WIB Last Updated 2026-01-13T06:02:39Z

Newsblessing.com, SULUT – Tabir gelap di balik kematian tragis mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima), Evia Maria Mangolo, menjadi perhatian serius gedung cengkih. DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) secara resmi memanggil Rektor Unima, Dr. Joseph P. Kambey, SE, Ak, MBA, untuk memberikan penjelasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas komisi, Selasa (13/01/2026).

​Rektor yang hadir memboyong jajaran Dekan, Senat, hingga Kepala Bagian, harus berhadapan dengan pertanyaan tajam para legislator terkait dugaan tekanan yang dialami korban sebelum mengakhiri hidupnya.




Bukan Sekadar Kasus Bunuh Diri Biasa

​Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV, Louis Carl Schram, didampingi Sekretaris Cindy Wurangian, berlangsung dengan tensi tinggi. Louis menegaskan bahwa hasil penyelidikan Polda Sulut yang menyebut korban mengakhiri hidup akibat depresi dan tekanan sosial, hanyalah puncak dari gunung es masalah di Unima.




​"Kematian Evia bukan sekadar kasus mengakhiri hidup. Ini adalah sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang sangat salah di dalam kampus, tempat yang seharusnya menjadi ruang menempa intelektualitas dan moral," tegas Louis, politisi asal Gerindra tersebut.


Dugaan "Budaya Bungkam" di Kampus

​DPRD Sulut menyoroti adanya tekanan terpendam yang selama ini tidak berani disuarakan oleh para mahasiswa. Louis menyebut fakta-fakta yang beredar di media sosial menjadi bukti adanya masalah sistemik yang melibatkan oknum di lingkungan kampus.

  • Cermin Kegagalan Institusi: Kampus yang seharusnya menjadi "rumah kedua" bagi mahasiswa, justru dituding menjadi tempat munculnya tekanan mental yang berat.
  • Harapan Perbaikan: DPRD mendesak Unima melakukan evaluasi total terhadap pola interaksi antara oknum pengajar atau birokrasi kampus dengan mahasiswa agar tragedi serupa tidak terulang.

​"Kami mengundang Rektor untuk mencari jawaban jujur. Selama ini banyak mahasiswa yang diam karena takut. Unima adalah kebanggaan Sulut, jangan sampai dirusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," tambah Louis.

Atensi Lintas Komisi

​Keseriusan DPRD dalam mengawal kasus ini terlihat dari hadirnya jajaran legislator lintas komisi, di antaranya:

  • Komisi IV: Prof. Julyeta Paula Runtuwene, Vionita Kuerah, Billy Lombok, dan Pierre Lombok.
  • Komisi II: Jeane Laluyan.
  • Komisi III: Amir Liputo dan Gracia Oroh.

​Evia Maria Mangolo, mahasiswi semester akhir Jurusan PGSD FIPP Unima, ditemukan tak bernyawa di tempat kosnya di Kelurahan Kaaten, Tomohon, pada akhir Desember lalu. Kasus ini kini menjadi momentum bagi publik Sulawesi Utara untuk menuntut transparansi dan perlindungan mental bagi mahasiswa di perguruan tinggi. (Olvie)




Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar