Newsblessing.com, SULUT – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mempertegas komitmennya dalam memperkuat sektor perekonomian daerah sekaligus melestarikan warisan tradisi lokal. Langkah tersebut tercermin saat Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH, menghadiri jamuan makan malam (Welcome Dinner) memperingati perhelatan World Coconut Day 2026.Agenda internasional yang berlangsung di Museum Negeri Sulawesi Utara, Manado, pada Kamis (8/10/2026) malam tersebut digelar berbarengan dengan seremoni penutupan ajang Pekan Rona Budaya Sulawesi Utara 2026.
Membacakan pidato resmi Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, Victor menyampaikan apresiasi mendalam dan ucapan selamat datang kepada seluruh utusan diplomatik serta tamu mancanegara yang hadir di daerah berjuluk Bumi Nyiur Melambai ini.
Penunjukan Sulawesi Utara sebagai tuan rumah panggung internasional sekelas World Coconut Day 2026 dianggap bukan sekadar seremoni biasa. Predikat ini menjadi bukti nyata posisi geopolitik dan ekonomi Sulut yang krusial sebagai salah satu sentra ekosistem serta produsen kelapa paling produktif di Tanah Air.
Menurut Pemprov Sulut, komoditas kelapa memiliki makna yang jauh melampaui angka-angka statistik di sektor perkebunan. Tanaman ini telah mengakar kuat sebagai elemen identitas, simbol kebudayaan, sekaligus mesin penggerak roda perekonomian warga lokal sejak lampau. Sektor perkebunan kelapa beserta seluruh produk turunannya konsisten menjadi fondasi penyokong pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Lewat gelaran World Coconut Day 2026, pemerintah daerah menaruh harapan besar agar forum global ini mampu memperluas kolaborasi internasional, menjaring arus investasi baru, serta memicu lompatan inovasi teknologi pengolahan kelapa dari rantai hulu hingga ke hilir.
Guna merespons peluang tersebut, Pemprov Sulut menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi program hilirisasi di sektor perkebunan. Langkah ini dijalankan secara bersisian dengan optimalisasi sektor pariwisata, perikanan, serta transisi energi terbarukan—dengan tetap menjaga keselarasan terhadap nilai-nilai kearifan lokal.
Secara letak geografis, posisi Sulawesi Utara sangat strategis dalam peta perdagangan kawasan. Pemprov optimis daerah ini mampu memperkokoh perannya sebagai gerbang utama aktivitas ekonomi di wilayah Asia Pasifik melalui perpaduan sinergi antara pemerintah pusat, investor mancanegara, lembaga riset dunia, dan para pelaku industri terkait.
Di ranah kebudayaan, jamuan malam tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian Pekan Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 yang telah menyemarakkan publik sejak 5 hingga 26 September lalu.
Pekan Rona Budaya dihadirkan sebagai wadah perenungan atas tingginya nilai seni, tradisi, serta warisan leluhur masyarakat Sulawesi Utara. Integrasi antara agenda industri kelapa skala global dan program konservasi kebudayaan ini membuktikan bahwa modernisasi ekonomi dan penguatan jati diri daerah dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Prinsip kebersamaan yang terangkum dalam falsafah hidup "Torang Samua Basudara" tetap ditekankan sebagai pijakan utama dalam melangkah. Nilai kebangsaan ini dinilai menjadi fondasi kokoh untuk memajukan daerah, sembari terus merawat keberagaman serta warisan budaya sebagai modal sosial yang bernilai tinggi.
Pemprov Sulut mengutarakan harapannya agar seluruh agenda World Coconut Day 2026 melahirkan kesepakatan-kesepakatan strategis yang membawa dampak konkret bagi kemajuan industri kelapa di tingkat nasional dan internasional.
Di sela-sela kegiatan, Pemprov Sulut turut mengundang seluruh delegasi dan tamu mancanegara untuk menjelajahi ragam destinasi wisata unggulan di Sulut. Mulai dari keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken, eksotisme Danau Tondano dan Danau Linow, keasrian kawasan Tomohon, hingga menikmati kelezatan ragam kuliner khas Manado.
Penyelenggaraan dua ajang besar ini kian mengukuhkan posisi Sulawesi Utara di panggung dunia sebagai wilayah yang kaya akan potensi ekonomi unggulan, menjaga kelestarian budaya, serta memiliki keramahan masyarakat yang menjadi daya tarik utama bagi pemangku kepentingan internasional.
(*/Olvie)
View:864